DO YOU LOVE ME ?
(about friendship
and love)
Kring... Kring... Suara keras terdengar dari alarm yang
menunjukan pukul 06.00 WIB. Ini adalah saatnya bangun dan berangkat sekolah
untuk seorang gadis bernama Ananda Lusia. Dia sekolah di salah satu sekolah
favorite di Jakarta. Ananda Luisa yang biasa di panggil Luisa itu seorang gadis
yang jail, ceria, pintar tapi malas, dan super selow, teman – temannya pun
memanggilnya mss. Selow. Dia adalah pelajar SMP dan duduk dibangku kelas 3
umurnya pun masih 14 tahun.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 wib ini artinya
saatnya pelajaran seni budaya. Luisa sangat tidak suka dengan pelajaran yang
satu ini, apalagi sama gurunya MATRE, sakin matrenya dia gak akan ngasih nilai
bagus ke anak muridnya kalo gak beli jus dan pop mie yang dia jual di kantin.
Luisa duduk ditempatnya sambil menopang dagu di tangannya sambil terus melihat
ke arah jam dinding yang di depannya.
“Aduh... kapan selesainya sih ni pelajaran,
lama banget” gerutunya dalam hati sambil memasang wajah bosan.
“dari pada gue bete disini, mana laper lagi
gue, mending gue ke kantin “ pikirnya. Tanpa berpikir panjang luisa pun
mengendap- endap untuk keluar kelas.
“yes!! Akhirnya gue keluar juga dari kelas,
langsung kantin haha”
Sesaat sedang makan di kantin, tidak sengaja
luisa melihat uang dibawah meja kantin.
“wah ada uang tuh, kayanye gue lagi beruntung
nih” luisa pun langsung mengambil uang di bawah meja kantin itu.
“yah uang maenan, gue kira uang beneran sial
banget sih gue!” dengan muka kesal dan betenya suara itu keluar dari mulutnya.
Masih dengan muka betenya Luisa pun melihat didepannya seorang guru sedang
makan, langsung keluar ide jail si Luisa untuk menjaili guru yang dilihatnya
itu. Yap dia adalah Pak Dani guru Ips yang juga mata duitan. Saat Pak Dani
sedang asik menyantap makanannya, Luisa pun berjalan di depan Pak Dani sambil
membuang uang maenannya itu tepat disamping sepatu Pak Dani. Luisapun kembali
duduk memesan minuman sambil memperhatikan Pak Dani. Setelah Pak Dani selesai
makan. Diapu menyadari ada uang di sebelah sepatunya dan langsung mengambilnya
. Luisa pun lari sambil tertawa terbahak – bahak .
“haha berhasilkan gue ngerjain si Dani rasain
tuh “ sambil terus tertawa.
Luisa itu cuek banget dia ga pernah jatuh
cinta . Padahal hampir semua temannya adalah pria , tapi tak satupun Luisa
menaruh hati pada mereka . Saat ngumpul bersama teman wanitannya pun Luisa
tidak tertarik saat mereka membicarakan tentang pacar atau gebetan mereka.
Minggu 07.30 wib, Luisa pun bangun dan keluar
untuk menghirup udara segar di pagi hari. Tidak sengaja dia mengalihkan
pandangan kearah kanannya, dia pun terdiam sambil terus memperhatikan pria yang
jauh berdiri di arah kanannya itu. Yap ternyata Luisa sedang melihat Rama, Rama
itu pria yang pendiam, gaul, dan cuek pastinya, dia pun enggan membicarakan
tentang masalah hatinya kepada orang lain, itu sebabnnya sulit sekali menebak
apa yang ada di pikiran dan hatinya itu. Rama pun tersenyum ramah kepada wanita yang sedang memperhatikannya itu.
Seperti biasa Luisa tidak bisa membalas senyuman dari seseorang yang belum ia
kenal, Luisa pun kembali ke rumah. Setelah kejadian itu dia terus memikirkan
dan memperhatikan pria yang ia lihat itu. Tidak jarang juga mereka pun sering
bertemu dijalan, setiap bertemu Rama selalu memberikan senyuman termanisnya
untuk Luisa, itulah yang membuat Luisa semakin penasaran kepada Rama.
Sampai akhirnya Ayu pun datang dan berteman
baik dengan Luisa. Ayu itu gadis yang ramah, baik, dan penyayang. Gak heran
banyak orang yang sayang kepadanya, terlebih dia juga saudara dari Rama.
Setelah seringnya mereka ngobrol dan bermain bersama mereka pun mengikat diri
mereka sebagai sahabat. Dimana ada Ayu disitu pasti ada Luisa, sampe – sampe
orang –orang bilang mereka kembar padahal asli loh mereka beda banget.
Suatu malam saat mereka sedang duduk
bercerita sambil menikmati indahnya bintang malam Luisa pun mulai menanyakan
Rama kepada Ayu.
“Yuk saudara loh yang baru dateng dari
kampung itu siapa namanya?”
“Oh... itu Rama, kenapa nayain dia suka
yaaa??”
“Ah enggak, orang gue cuman nanya doang”
“ah udah ngaku aja, lo suka kan sama rama?”
Ayu terus bertanya kepada Luisa dengan gaya
meledeknya.
“iya... iya... gue ngaku gue suka sama rama”
Luisa pun menyerah, lagi pula dia berpikir kalau Ayu bisa membantunya
mendekatkannya dengan rama, secara Ayu saudaranya.
“tuh kan ngaku juga akhirnya”sambil tertawa
kecil, Luisa pun tersenyum malu.
Setelah kejadian malam itu Ayu pun mulai
membantu Luisa menjalankan segala rencana yang dibuat Luisa untuk mendekati
Rama.
Semua berawal saat sore sekitar pukul 17.00
wib terlihat Rama sedang bermain layangan, Ayu pun datang mendekatinya dan
memulai pembicaraan.
“A Rama dapet salam”
“waalaikumsallam” jawabnya dengan nada halus.
“A Rama ada yang sukain tuh”
“iya Rama tau, Rama juga” sambil menurunkan
layangannya dan bergegas pergi pulang meninggalkan Ayu. Ayu pun terdiam dan
bingung dengan perkataan Rama yang terakhir itu, dia ingin menanyakannya kepada
Rama tapi Rama sudah pergi.
Setiap malam seperti biasa di depan rumah
Luisa terdengar suara yang sudah khas
itu. “Assalammualaikum Luisa...Luisa...” itu adalah suara khas Ayu saat ingin
mengajak Luisa main.
“Eh Ayu”
“Jalan – jalan yuk Sa” tanpa menjawab Luisa pun langsung keluar dan berjalan – jalan bersama Ayu. Kebiasaan
yang selalu mereka lakukan yaitu berjalan – jalan menikmati angin malam sambil
bercerita.
“Sa tadi udah gue salamin tuh”
Luisa
pun diam dan memperhatikan Ayu, sambil Ayu membalas lagi.
“Dia bilang waalaikumsalam. Gue juga tadi
bilang gini “A Rama ada yang sukain tuh”. Trus dia bilang “Iya Rama tau, Rama juga””.
Mendengar itu Luisa pun tesenyum dan berkata
“ Menurut lo dia juga suka sama gue?”
“kayanya sih iya”
Luisa tersenyum bahagia, kini dia sadar kalau
dia sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya dan pria yang berhasil mengambil
hatinya adalah Rama..
Waktupun terus berjalan... Luisa pun terus
melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Rama. Tapi Rama pun tak kunjung
datang untuk mendekatinya.
“kenapa sih gue udah ngelakuin apa aja tapi
dia gak deket- deketin gue juga!!” dengan nada kesal dan kecewa kata- kata itu
keluar dari mulut Luisa.
“sabar sa, mungkin dia masih nunggu waktu yang
tepat kali” Ayu terus berusaha mencoba menenangkan Luisa.
Ayu memang selalu setia ada di samping Luisa
sat keadaan susah ataupun senang, begitupun Luisa sebaliknya kepada Ayu. Mereka
saling mengerti satu sama lain, tidak heran gimana pun permasalahan yang ada di
luar sana gak akan mampu memisahkan
persahabatan mereka.
12 Februari
pukul 19.00 wib
Tiba- tiba orang tuanya mengajaknya pergi
keluar kota, padahal Luisa ingin sekali tetap dirumah Untuk merayakan ulang
tahunnyabersama Ayu.
“Gimana
Sa, kamu harus ikut kita ke Bogor”
“Gak bisa ma, besok itu hari ulang tahun aku,
aku ngak mungkin pergi”
“Tapi rencana ke Bogor ini nggak bisa di
undur”
“Yaudah kalo kalian mau pergi, pergi aja,
Luisa gak ikut”
“Yakin, kamu gak apa –apa sendirian? “
“Iya ma”
“Yaudah kalo itu mau kamu”
Pukul 00.00 wib uisa tidur
– tiduran dikamarnya sambil memengang handphone dan semangat saat membuka sms
masuk. Tapi dari semua sms yang masuk tidak ada sms satupun dari Ayu.
“Kok Ayu belum ngucapin
selamat ulang tahun ke gue yah apa dia lupa, ah tapi mana mungkin” Gumamnya
dalam hati sambil terus memngang hpnya berharap sms masuk ucapan selamat ulang
tahun dari Ayu. Luisa pun tertidur.
Pukul 08.00 wib. Luisa pun
terbangun, saat terbangun dia menemukan keluarganya sudah berangkat pergi ke
Bogor, kini dia pun sendirian, berharap ada yang menemaninya saat itu. Luisa
pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Saat mandi terdengar suara teriakan seorang
gadis.
“HAPPY BIRTHDAY” HAPPY
BIRTHDAY LUISA” Gadis itu pun terus mengulangi kata – katanya.
Akhirnya yang di tunggu
dateng juga, Itu suara Ayu.
Di
dalam kamar mandi Luisa berteriak “bentar Yu bentar, lo tunggu aja bentar lagi
selesai kok.”
“oke
jangan lama- lama yah” balas Ayu.
Sudaah
hampir setengah jam Ayu menunggu Luisa. Luisa pun keluar dari kamar mandi
pertanda dia sudah selesai mandi.
“akhirnya
lo selesai juga mandinya”
“hehe
maaf maaf” sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“yaudah
cepet pake baju sana”
“siapp”
Sembari
menunggu keluarga Luisa pulang, Ayu pun setia menemani Luisa. Dia pun juga
memasakkan Luisa masakan kesukaannya, sehingga Luisa pun senang dan tidak
merasa kesepian karena kepergian keluarganay ke luar kota. Sebenarnya selang waktu ulang tahun Luisa dan Ayu hanya
sebulan. Luisa Februari Ayu Maret. Atas semua yang dilakukan Ayu kepadanya,
Luisa pun berniat melakukan hal yang spesial di hari ulang tahun Ayu nanti.
*back
to Rama*
Luisa pun
belum menyerah, dia masih menjalankan rencana- rencana gilanya itu sambil
dibantu Ayu sahabat setianya itu. Tak kunjung mendapat respon, Luisa pun
berniat untuk memberi kan Rama sebuah hadiah, agar setiap Rama melihat hadiah
pemberiannya itu dia bisa mengingat siapa pemberi hdiah itu. Tanpa basa- basi
mereka pun bergegas pergi ke mall dekat rumah untuk membeli hadiah. Setelah
lama keliling untuk melihat- lihat merekapun berhenti di toko domepet.
“yu
dompetnya bagus deh, kayanya cocok gue kasih ke Rama”
“hem
iya sa ini keren kok dompetnya”
“menurut
lo gimana cocok gak klo gue kasih ini ke Rama?”
“cocoklah,
lagi pula kayanya dia gak punya dompet tuh, jadi ini bakal berguna banget buat
dia”
Mereka
pun membeli dompet itu dan bergegas pergi meninggalkan mall.
Sebenarnya
di saat Luisa terus berusaha mendekati Rama. Ada satu gadis bernama Karin yang
tidak suka Luisa mndekati Rama. Wajar aja Karin itu suka banget sama Rama, jadi
dia gak suka klo ada cewek yang ngedekati Rama. Apalgi ceweknya Luisa, dia
ngerasa kesaing banget. Makanya Karin selalu sinis bila melihat Luisa. Tapi
balik lagi Luisa itu cuek banget, jadi bagi dia gak penting ngeladenin si
Karin. Jadi dia cuek aja sampe si Karin capek sendiri.
Luisa
pun membungkus hadiah yang akan diberikannya itu dengan berlapis- lapis
banyaknya koran. Biasa naluri jailnya keluar lagi. Dia ingin saat Rama membuka
kadonya itu tidak semudah membuka kado
pada biasanya. Dia ingin saat Rama membuka kadonya dia harus menyobek satu
persatu lapisan koran itu baru bisa menemukan hadiah di dalamnya. Haha emang jail banget si Luisa, sampe- sampe
ingin memberikan hadiah untuk pria yang disukainya aja masih sempat- sempat
berfikiran untuk menjahilinya.
Disaat
mereka sedang asik membungkus kado,terdengar suara dering tanda memanggil dari
HP Luisa bertuliskan MAMA di layar HP nya .
“
Hallo ma kenapa?”
“lagi
dimana kamu Sa?”
“dirumah
Ayu, emangnya kenapa ma?”
“pulang
sekarang udah sore”
“hem...
iya iya” Luisa terdiam sambil melihat ke
arah bawah bungkusan kado yang belum selesai. Sambil tersenyum Ayu berkata
“udah
lo pulang aja, ini biar gue yang nyelesain”
“oke deh, gue pulang dulu yah Yu”
“iya”
Ayu tersenyum.
Lisa masih menunggu waktu yang tepat untuk
memberikan kadonya itu ke Rama. Selama Luisa menunggu waktu yang tepat, Luisa
menyimpan kado itu di rumah Ayu, karena kalau dirumahnya dia takut orang tuanya
bertanya – tanya soal kado itu.
Setelah lama, akhirnya Luisa pun menentukan
waktu yang tepat untuk memberikan kado itu ke Rama. Dengan segenap keyakinan
Luisa pun menarik tangan Ayu untuk segera mencari Rama sambil teru memegang
sesuatu berbungkus warna biru muda itu. Mereka pun menemukan Rama. Ternyata
Rama sedang asik nonton TV di pos bersama teman –temannya.
“Aduh gimana ngasihnya gue kalo gini” gerutu
Luisia.luisa pun mengurungkan niatnya untuk memberikan kadonya langsung kepada
Rama, dia menyuruh Ayu untuk memberikannya.
“Yu lo yang kasih kadonya , gimanapun caranya
lo harus kasih kado ini saat lo Cuma berdua doang sama Rama”
“iyaaa” Ayu pun pergi kearah pos dimana Rama
berada.
Dengan gelisah Luisa menunggu di balik tembok
sambil mengintip kearah mereka , terlihat Ayu yang sedang menarik –narik tangan
Rama. Ayu terus berusaha menarik Rama sampai ketempat diman dia Cuma berdua
dengan Rama. Mereka pun berhenyi dan Ayu pun melepaskan tangannyadari Rama.
“Apaan sih lo narik – narrik gue ?!”
“Nih!!!” sambil menunjukan kado di tangannya
“Apaan nih?” tanya Rama bingung
“Ini kado dari Luisa”
“Buat gue?”
“Iyalah buat lo!”
“Hari ini kan bukan ulang tahun gue, baik
banget sih dia ngasih kado bilang ke dia makasih banget ya atas kadonya”
Akhirnya Ayu datang ketempa Luisa dimana
Luisa menunggunya. Dengan penuh cmas Luisa pun langsung bertanya kepada Ayu.
“Gimana yu, dia bilang apa?”
“Makasih katanya”
“Yaudah ayo” sambil menarik tangan Ayu dan
pergi tanpa bertanya – tanya lagiseakan tidak ingin tahu lebih apa yang terjadi
tadi.
Sesampainya dirumah Luisa pun tidak tidur
padahal itu sudah sangt malam. Dia masih memikirkan kejadian itu.
“Apa yang terjadi tadi ? Rama bilang apa aja
yah sama Ayu?”
Pertanyaan seperti itu terus bermunculan di
kepalanya , sehingga membuatnya susah untuk tidur. Sebenarnya Luisa ingin
sekali menanyakan langsung ke Ayu, tapi dia takut ada pekataan Rama yang
membuanya kecewa.
Sampai rencana terakhir pun Rama masih belum
menjawab apa – apa tentang perasaan Luisa. Sambil terus menangis Luisa pun
menyerah , kini dia sadar kalau dia tidak bisa mengambil hatinya Rama. Karena
rasa cintanya yang begitu dalam kepada Rama. Luisa pun tidak terima dengan apa
yang terjadi, di setiap kesempatan air mata Luisa pun terus berjatuhan. Yang
selalu berada di sampingnya adalah Ayu, Ayu terus menyadarkan Luisa bahwa Rama
adalah pria paling bodoh karena sudah menolak gadis seperti Luisa sampai waktu
itu Luisa pernah bertanya kepada Ayu.
“kalo lo terlahir sebagai cowok, lo mau jadi
siapa?” Ayu pun terdiam sejenak dan menjawab.
“Rama!”
Luisa pun diam setelah mendengar jawaban dari
sahabatnya itu, lalu bertanta lagi kepada Ayu.
“Kenapa lo mau jadi Rama?”
“Karena dia di cintain sama lo”
Luisa pun terdiam dan langsung pergi ke rumah
meninggalkan Ayu. Luisa bukannya benci dengan perkataan Ayu , hanya saja dia
tidak sanggup menahan air matanya yang sudah ingin jatuh itu. Luisa ingi sekali
melupakan Rama, tapi setiap dia mencoba untuk melupakannya Rama selalu muncul
di hadapannya.
Selang
waktu berjalan
Akhirnya Ayu pun pergi untuk selamanya karena
penyakit yang di deritanya itu. Sebenarnya Ayu mengidap oenyakit kanker hati
stadium akhir dan dokter bilang umurnya ngak akan lama lagi. Itu sebabnya Luisa
selalu berusaha memberikan yang terbaik di hari – hari terakhirnya itu. Ayu
meninggal tepat selang dua hari sebelum ulang tahunnya. Padahal Luisa sudah
merencanakan kejutan special untuk Ayu di hari ulang tahunnya. Tapi gimana lagi
.... takdir berkata lain Ayu keburu di
panggil sama Tuhan. Mumgkin karena tuhan sangat menyayangi Ayu makanya Ayu di
panggil secepat itu.
______________Singkat Cerita______________
Luisa pun lulus dan mulai masuk SMA. Semenjak
Ayu pergi dan mulai dan Luisa mulai masuk SMA. Luisa tidak pernah keluar rumah
lagi seperti dulu, sekalinya keluar paling pergi sama temen – temen sekolahnya.
Semenjak itulah Luisa sudah mulai bisa melupakan Rama. Karena sudah hampir
tidak pernah bertemu lagi .
Luisa pun tumbuh menjadi gadis yang dewasa
dan cantik. Tanpa terasa Luisa pun Luisa lulus SMA tepat di usia 17 tahun dan
ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
Yah... Luisa ini hidup di keluarga yang bisa
di bilang berkecukupan. Orang tuanya pun mampu dan orang tuanya mamou
menyekolahkannya sampai keperguruan tinggi.nberbanding terbalik banget sama
Rama. Rama hidup di keluarga sederhana. Setiap hari dia harus bekerja untuk
memenuhi kebutuhannya dan membantu ibunya. Dia juga cuma tamatan SMP, makanya
gak heran kalo dia menomor duakan urusan hatinya. Tepat di usia ke 17 tahu
Luisa di pertemukan lagi dengan Rama. Awalnya Luisa pun tidak terima kalau dia
harus di pertemukan lagi dengan Rama. Karena dia pasti akan mengingat kejadian
– kejadian dulu itu. dan persaan itu pun muncul lagi. Luisa pun terus melawan
rasa cinta yang dia punya terhadap Rama, tapi nyatanya malah perasaan itu
semakin tumbuh. Dia pun sadar dan memutuskan untuk terus menjalani kehidupannya
itu sambil menutup rapat – rapat mata dan telinganya untuk Rama. Setiap kali
mereka bertemu, tidak jarang Luisa mengegepi Rama sedang memperhatikannyadengan
tatapan mata yang penuh arti. Itulah yang membuat Luisa bingung tentang
bagaimana perasaan Rama ke padanya.
Pukul 23.30 wib, Luisa pergi keluar untuk
membeli sesuatu di warung, karna ini sudah sangat malam . jalanan pun sudah
sepi. Kecuali di salah satu warung pinggir jalan, disana masih banyak anak –
anak nongkrong.
Saat di perjalanan ingi kembali kerumah Luisa
melihat di depannya Rama yang berjalan satu arah dengannya. Tidak satu pun dari
mereka yang memalingkan pandangannya, mereka pun terus berjalan sambil
memperhatikan satu sama lain. Setelah mereka salin melewati, Luisa pun
mengalihkan badan dan berteriak.
“RAMAAAA!!”
Rama pun langsung memalingkan badannya kearah
suara itu sambil terdiam seperti patung. Luisa pun berjalan mendekati Rama yang
terdiam seperti patung itu.
“Rama” suara Luisa mulai memelan.
“Kenapa?”keluar juga suara dari pria yang
terdiam seperti patung itu.
Luisa pun tidak bisa menahan lagi air mata
nya itu, sambil terus menangis Luisa melanjutkan pembicaraan.
“ Gue cinta sam lo Ram, gue gak kuat menahan
perasaan ini terus menerus “
“ Lo serius cinta sama gue Sa?”
“Iya !! lo kira gue maen – maen atas semua
yang gue lakuin buat lo dulu”
“Tapi, kenapa?”
“Kenapa apa?”
“ Kenapa lo cinta sama gue ? apa yang lo liat
dari gue?gue itu bukan siapa – siapa, lo gak pantes cinta sama gue”
“kenapa?!! Gue cinta sama lo tulus, gue gak
peduli siapa lo! Gue tetep cinta sama
lo”
“gue ngak bakal mungkin ngebahagiain lo”
“Lo ngak usah khawatir, karena gue yang bakal
ngebahagiain lo”
Suasana pun hening, mereka sama – sama
terdiam setelah beberapa lama tidak terdengar suara. Akhirnya terdengar suara
lantang dan pelan yang terus meyakinkan.
“Percuma Sa, itu semua ngak akan mungkin
terjadi lo berhak ngedapetin yang lebih dari gue “
Dengan perasaan yang sangat kecewa Luisa pun
berlari pergi meninggalkan Rama sambil terus mengusap air matanya yang
berjatuhan itu dengan tangannya. Sesampainya di rumah Luisa pun langsung masuk
kekamarnya dan memeluk bantal bintang
kesayangannya, sambil terus menangis sampai – sampai bantal bintang
kesayangannya itu basah seperti di siram air.
Luisa itu gadis yang cantik dan menarik ngak
heran kalau banyak sekali pria yang tertarik padanya. Memang dulu Luisa menutup
rapat – rapat hatinya untuk pria lain, karena dia cuma mencintai Rama. Tapi
kini dia sadar hidupnya harus terus berjalan. Luisa pun kini mulai menerima
pria – pria yang datang untuk mencintainnya. Tapi bukan berarti Luisa sudah
melupakan Rama. Bagi Luisa pacaran itu cuma mayoritas doang, padahal hatinya
hanya tertuju pada satu pria yaitu Rama. Dia percaya meskipun dia tidak bisa
mendapatkan Rama di awalnya. Takdir pasti akan menyatukan mereka
diakhirnya. J
Always
believen
“where
there is a great love, there always miracles”
__Willa Silbert
Catten__
By
Fika
Angraini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar